Sabtu, 04 Oktober 2014

Inovasi Jadikan Bisnis kian Kriuk

Bisnis penganan sedap berbahan ikan ini memang diturunkan antargenerasi, tapi inovasi membuat kualitas dan omzet terdongkrak. DENGAN cekatan, Eva Yunus, 47, menata kerupuk tenggiri dan kelempang atau kemplang de ngan label cap Ikan Belido di rak-rak tempat ia berjualan di Jalan KHA Azhari No 575, Ulu Laut, Kota Palembang, Sumatra Selatan.

Ia dibantu 15 asistennya mengelola usaha makanan khas Palembang sejak 1990-an.Wilayah Ulu, terutama 1 Ulu hingga 7 Ulu, dikenal sebagai kawasan pembuat makanan khas Palembang, mulai dari pempek, kemplang hingga kerupuk. Usaha yang dirintis Eva Yunus yang memiliki nama asli Nyi Mas Zulva Kartika itu merupakan warisan orangtuanya. Dahulunya, orangtua Eva ialah pembuat kuliner khas Sumatra Selatan pada 1970-an.


 “Dahulu orangtua saya cuma membuat kemplang, kerupuk dan pempek seperti umumnya. Tidak ada inovasi yang membuat pelanggan tertarik. Dahulu produk yang dijual orangtua saya bukan produk yang siap dimakan. Jadi kerupuk dan kemplang pun masih mentah,“ ujar Eva saat ditemui wartawan dalam acara press tour jurnalis iptek yang diadakan Kementerian Riset dan Teknologi, 15-17 September.Merintis inovasi Ibu empat anak ini mengawali inovasinya dengan bermodal Rp200 ribu. Terobosan dilakukan Eva buat mendongkrak rasa, kualitas, dan pelanggan.

Sebelumnya, Eva dibina oleh PT Pupuk Pusri sejak 2004. Ia diharuskan menggunakan ikan segar milik para nelayan binaan. Baginya tidak masalah karena pasokan ikan tenggiri akan selalu aman. “Tapi saya juga selektif dalam memilih ikannya.Harus yang segar karena menyangkut kualitas produksi makanan yang saya buat,“ ujarnya.

Setiap pabrik pupuk terbesar di Sumsel itu mengadakan acara, Eva selalu ikut serta menjual hasil dagangannya.“Dua tahun lalu tidak sengaja ketemu teman SMP yang bekerja di Balai Litbang Inovasi Daerah (Balitbangnovda) Sumsel.Dari pertemuan itu, saya diajari bagaimana membuat inovasi-inovasi produk kerupuk dan kemplang,” ujarnya.

“Kalau sebelumnya saya membuat kerupuk rasanya natural ikan tenggiri, sekarang sudah ada rasa sayuran. Saya berikan rasa wortel, bawang bombay, dan seledri.Ternyata banyak disukai konsumen,” terangnya.Selain inovasi rasa, Balitabangnovda juga membantu menyediakan satu unit mesin pengering kerupuk. “Mesin itu saya gunakan saat memasuki musim hujan.

Untuk menjemur kerupuk dari basah menjadi k ering, paling bagus tetap memakai panas sinar matahari. Kalau dengan mesin, kurang bagus hasilnya.” Hingga kini, rumah milik orangtuanya yang berlantai dua digunakan untuk memproduksi kerupuk dan pempek serta tempat penjualan. Sementara itu, rumah miliknya sendiri dipakai untuk membuka usaha warung makan pempek.

Dalam sehari, Eva mampu memproduksi 50-60 kg kerupuk mentah. Namun, setelah digoreng, produksinya menyusut. Untuk 1 kg kerupuk mentah, bila digoreng menjadi 800 gram saja.
Omzet Eva mencapai Rp45 juta per bulan, sedangkan keuntungan bersihnya rata-rata Rp5 juta-Rp10 juta per hari.“Ya, selain bisa menggaji karyawan, bisa membantu roda ekonomi. Suami saya seorang guru dan harus menghidupi empat anaknya yang semuanya masih sekolah.

Dengan wirausaha ini benar-benar sangat membantu,” tuturnya. Ia pun tidak cemas apabila karyawannya kemudian keluar dan membuka usaha sendiri. Bahkan, saat ini ada karyawannya yang sudah merintis jalan bisnisnya sendiri. “Dengan modal yang tidak besar, mereka mulai belajar membuat kerupuk sendiri, dan menjualnya walau skalanya masih kecil. Saya senang saja karena ada yang berkembang tidak hanya menjadi karyawan selamanya. Mereka punya penghasilan tambahan,“ ujar Eva.

Rata-rata pegawainya ialah orang di sekeliling rumahnya. Sebagian besar ialah ibu rumah tangga yang ingin memiliki penghasilan sendiri.Bukan cuma bisnis warisan Herfiani Rizkia dan Epina Cornely dari Inkubator Teknologi Balitbangnovda Sumsel yang ikut mendampingi Eva membenarkan bahwa di perkampungan sekitar Eva, mulai dari Satu hingga Tujuh Ulu merupakan perkampungan perajin kerupuk khas Palembang.

“Selama ini mereka hanya membuat kerupuk secara turun-temurun. Namun, tidak ada inovasinya. Rasanya itu-itu saja. Maka kami mencoba menjadi mediator antara konsumen dan produsen. Baru 20 produsen yang sedang dibina, dan salah satunya yang sudah sukses usaha milik Eva ini,“ kata Herfiani.

Di tengah hiruk-pikuk banyaknya pembeli yang mendatangi rumah produksinya, Eva menginginkan agar dagangannya itu bisa tersebar meluas di luar Palembang. Saat ini ia buka cabang di Bandung, Jawa Barat.Eva sangat menginginkan produksinya bisa juga memenuhi keinginan konsumen di luar negeri.

“Banyak konsumen dari Malaysia yang ingin dikirimi kerupuk buatan saya. Cuma masih ada kendala dalam pengiriman.Terutama ongkos kirim yang besar, juga pengepakan barangnya harus khusus supaya tidak rusak dan melempem. Produk yang saya jual ini produk yang sudah matang,“ ujarnya beralasan. (M-1) Media Indonesia, 4/10/2014, halaman : 19