Kamis, 13 November 2014

Fusion Jepang-Italia Bahan Terbaik Indonesia

Apa jadinya bila makanan Jepang dipadu dengan menu khas Eropa dan dibuat dengan bahan-bahan terbaik dari Indonesia?
KREATIVITAS bisa mengubah yang tadinya terlihat mustahil menjadi mungkin. Itulah yang ditawarkan Misticanza, perpaduan makanan Jepang dan Eropa yang dibuat dengan bahan-bahan terbaik Indonesia. Tiga negara berkolaborasi menjadi sajian menarik yang membuat hati penasaran.

Sore itu, Selasa(14/10), kami mampir ke Misticanza, restoran yang terletak di kawasan Sahid Sudirman Residence, atau tepatnya di Jalan Sudirman 86, Jakarta.Sebagian besar pelanggannya kalangan ekspatriat asal `Negeri Sakura'. Kehadiran mereka menjadikan tempat tersebut seperti miniatur Jepang di jantung Ibu Kota.
Akbar A, pemilik Misticanza, bertutur pelanggan mereka memang kebanyakan ekspatriat Jepang. Banyak di antara mereka merupakan petinggi perusahaan Jepang di Indonesia.

“Orang Indonesia yang makan di sini hanya 20%-25%,“ ujarnya. Menu dengan gaya fusion yang memadukan sentuhan Jepang dan Eropa ternyata nyaman di lidah Asia mereka. “Mungkin mereka (orang asli Jepang) pun bosan kalau harus makan sushi terus,“ celoteh Akbar. Sejak didirikan empat tahun silam, tempat itu tidak pernah sepi. Nama Misticanza sendiri, lanjut Akbar, diambil dari bahasa Italia yang berarti campuran salad.Healthy buckwheat Saat menjajal hidangan Misticanza, lidah kami pun mendapat jawaban me ngapa pelanggan mereka setia kembali ke restoran tersebut.

Hari itu, kebetulan kami datang saat mereka menghadirkan menu istimewa healthy buckwheat. Soba asal Shinshu diolah dengan resep hidangan Italia, dan dikreasikan dengan sayuran segar dari dataran tinggi Dieng. Roti buckwheat menjadi pembuka, layaknya hidangan ala Eropa. Diolesi krim dan gurih susu memberi permulaan yang ringan bagi lidah. Meski diakhiri dengan kata wheat, tak banyak yang tahu bahwa buckwheat bukanlah serealia atau biji bijian seperti gandum. Tepung buckwheat baik untuk kesehatan dan dipercaya mampu mencegah hipertensi, diabetes, arteriosklerosis, dan liver.

Lalu potato and sea urchin potage with gelee consomm menjadi menu berikut.Sup kentang itu menarik terutama dengan gelee, cairan kuning kental bening. Misa Yazawa, General Manager Misticanza, menjelaskan bahwa gelee merupakan hasil godokan tulang sapi.

“Digodok lama sekali,“ jelas Yazawa yang asli Jepang, tapi lancar berbahasa Indonesia. Dengan campuran gelee, sup kentang yang lembut jadi terasa makin gurih. Puncaknya, cold taglioni soba with fresh tomato soup memberi kejutan istimewa. Mi soba yang terbayang akan terasa nikmat disajikan hangat ternyata disajikan dingin.

Sup tomatnya pun dingin, tapi terasa lezat dan segar. Tambahan sedikit krim keju menambah variasi rasa hidangan tersebut.
Soba merupakan jenis mi asal Jepang yang terbuat dari tepung buck wheat. Meski bentuknya tipis mirip ramen, warna soba cenderung putih dan pucat.

Terakhir dalam menu promosi healthy buckwheat, kami menikmati Java Dieng carrot and orange moouse. Sesuai namanya, wortel yang digunakan berasal dari Dieng. Hi dangan penutup itu lembut dengan rasa manis yang pas.

Untuk satu set lengkap hidangan healthy buckwheat, Misticanza memasang bande rol Rp300 ribu. Kalau belum puas dengan healthy buckwheat, kami rekomendasikan cicipi pilihan piza yang ditawarkan, yakni piza pestacora seafood seharga Rp175 ribu.

Ukurannya cukup besar, bisa untuk enam potong. Dengan irisan cumi-cumi dan udang, piza seafood dengan lapisan saus tomat itu terasa nikmat. Apalagi ada tambahan kerang berukuran besar. Miniatur Jepang Betul-betul miniatur Jepang!

Itulah yang kami rasa soal Misticanza. Tak hanya membawa lidah dengan selera mereka, kebiasaan dari negeri asal pun tampaknya dibawa. Bukan isapan jempol jika orang Jepang mempunyai disiplin kerja tinggi. Mereka berangkat kerja pagi, seusai itu bersosialisasi dan mi num minuman beralkohol hingga larut malam.

Di Misticanza, tersedia al kohol untuk pelanggan. Ada satu lemari penyimpanan khusus botol-botol minuman milik pelanggan. Botol-botol itu ditempeli tu lisan nama pelanggan. Biasanya ka rena tidak habis, mereka menitipkan ke Misticanza.

Sentuhan personal itu agaknya membuat pelanggan selalu ingin datang kembali.Apalagi Yazawa, sang GM, dengan gesit berkeliling dari satu meja ke meja lain, memastikan semua yang datang puas dengan layanan me reka. Misticanza ibarat rumah atau kantor kedua. (M-3) Media Indonesia, 9/11/2014, halaman 23