Kamis, 06 November 2014

Kopi Luak Tipiskan Defisit Perdagangan

Optimisme terhadap perekonomian ke depan dirasakan oleh masyarakat kendati keyakinan tersebut sedikit menurun pada bulan lalu. KOMODITAS kopi, khu susnya kopi luak, diduga ikut memberi dorongan terhadap peningkatan ekspor pada September 2014. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan ekspor coffee maker atau pembuat kopi mencatatkan kenaikan ekspor yang paling tinggi sepanjang periode Januari September tahun ini.

Menurut Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo, selama periode tersebut ekspor coffee maker naik berpuluh kali lipat ketimbang periode yang sama tahun lalu. Tanpa menyebut nilai, Sasmito mengatakan ekspor banyak dilakukan ke Amerika Serikat (AS). Permintaan yang tinggi terhadap coffee maker diduga terjadi karena dorongan kopi luak yang sudah mendunia.

“Pertumbuhan ekspor coffee maker paling fenomenal. Naiknya sampai 1. 750 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu,“ ujar Sasmito, seusai jumpa pers bulanan BPS, di Jakarta, kemarin.

Dalam jumpa pers, Kepala BPS Suryamin mengemukakan neraca perdagangan September 2014 defisit US$270 juta. Namun, defisit tersebut lebih rendah bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$800 juta.

Secara kumulatif, pada JanuariSeptember 2014 terhitung neraca perdagangan defisit US$1,68 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$6,39 miliar.

“Kalau kita lihat, defisit semakin turun karena defisit semakin lama semakin kecil,“ lanjut Suryamin. Defisit yang semakin turun didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas. Di sisi lain, sektor minyak dan gas (migas) masih menjadi penyumbang terbesar defisit.

BPS memperkirakan ekspor akan meningkat pada Oktober seiring dengan meningkatnya volume dan harga komoditas ekspor. Keyakinan positif Optimisme terhadap perkembangan perekonomian ke depan juga dirasakan konsumen kendati keyakinan itu sedikit melemah.

Hal itu terungkap dalam survei ANZ-Roy Morgan pada Oktober 2014 yang dirilis kemarin. Jumlah masyarakat yang berkeyakinan bahwa Indonesia akan mengalami masa yang baik secara finansial selama 12 bulan ke depan turun 4,5 poin menjadi 82,8 persen. Kemudian, 92 persen masyarakat memperkirakan kondisi serupa untuk jangka waktu lima tahun ke depan, turun 2,4 poin ketimbang bulan sebelumnya.

“Manuver-manuver politik yang meresahkan dan kemungkinan kenaikan harga BBM dalam waktu dekat kini menjadi pikiran konsumen Indonesia,“ tutur ANZ Chief Economist South Asia, ASEAN & Pacific, Glenn Maguire, dalam laporan hasil survei.

Pada kesempatan terpisah , ekonom dari Cresco Research Institute Raden Pardede mengatakan tahun depan Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan kebijakan moneter dalam menghadapi dina mika pasar global. Kebijakan bank sentral AS menaikkan suku bunga tahun depan akan membuat investor berbondong-bondong mengalihkan investasinya dari Indonesia.

Kombinasi kebijakan moneter dengan kebijakan fiskal, struktural, dan protokol manajemen krisis yang tepat, menurut Raden, akan menyelamatkan rupiah dari depresiasi yang dalam. (Riz/E-1) Media Indonesia, 4/11/2014, halaman 17