Minggu, 02 November 2014

Warna India dalam Cita Rasa

Bagi umat Hindu, datangnya bulan baru itu menandakan saatnya untuk berpesta. DEEPAVALI, itulah namanya. Berasa dari bahasa Sanskerta, deepavali berarti serangkaian cahaya. Perayaan kea gamaan itu merupakan wujud syukur yang melambangkan kemenangan cahaya atas kegelapan atau pengetahuan atas kebodohan.

Dalam perayaan yang berlangsung selama lima hari sejak bulan baru muncul, Lakshmi yang merupakan dewi kekayaan dan kemakmuran pun dipuja. Namun, di beberapa bagian di India, ada juga yang meyakini Deepavali sebagai momentum untuk memuja dewa lain.

Di berbagai belahan India, memang ada banyak variasi legenda dan mitos yang menyelubungi hari raya itu. Namun, apa pun kisahnya, satu hal yang pasti, kapan pun Deepavali digelar, dipastikan ada festival cahaya. Jutaan lampu, lilin, atau lentera dinyalakan baik di atap rumah, luar pintu dan jendela, tempat ibadah, ataupun bangunan lainnya.

Tak hanya itu, kemeriahan juga tersaji melalui hidangan di meja makan. Meski jauh dari India, kami sempat turut merayakan Deepavali di Jakarta, tepatnya di Cafe Gran Via, Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta, Kamis (23/10). Warna India pun hadir dalam cita rasa makanan khas negara itu yang disajikan dalam promosi makanan India berkonsep prasmanan.

Kami memulainya dengan kudapan vegetables samosa. Camilan khas India itu terbuat dari tepung terigu yang diisi dengan aneka sayuran. Ada potongan kentang, kubis, kacang polong, bawang bombay, bercampur dengan jus lemon, bubuk ketumbar, cabai, dan jahe.

Executive sous chef Apep Hendrawan menunjukkan cara memakan samosa sesuai kebiasaan di India. Kulit samosa yang garing harus dilubangi sedikit, lalu dibubuhi dengan chutney alias kuah yang dibuat dari berbagai buah, daun atau rempah. Pilihan jatuh pada chutney tamarind dan mint. Rasa asam yang menyegarkan seketika menjalar ke lidah, menjadi pembuka santap kami siang itu.

Karena belum mau terburu-buru ke hidangan utama, kami menikmati semangkuk aloo corn soup. Aloo dalam bahasa India berarti kentang. Kekentalan sup jagung itu didapat dari sana. Berbeda dengan sup gaya Prancis atau negara lain di Eropa yang rasanya ringan di lidah, sup dari India ini memiliki cita rasa yang lebih kaya. Tak hanya gurih, ada juga rasa pedas di dalam sup yang terlihat bercampur potongan daun mint itu. Hidangan utama Selanjutnya, kami masuk ke hidangan utama, nasi biryani ayam. Tentu saja layaknya nasi biryani, rasanya kaya dengan berbagai rempah, baik yang digunakan dalam proses pengolahan ayam maup u n pemasakan bersama nasi. Tapi siapa mengira masih ada cara khusus yang membuat biryani lebih istimewa.

Chef Apep menjelaskan, meski rasa biryani sudah cukup ramai, ternyata masih cocok bila dimakan bersama pendamping yang juga kaya rempah. Gulungan papad yang serupa tortila atau keripik, menyisakan rasa pedas di ujung lidah saat dimakan sendirian. Meski mulanya ragu, terbukti memang nasi biryani yang kaya rasa tidak menjadi berlebihan ketika dimakan dengan papad yang bercita rasa rempah. Nikmat sekali! Lalu tiba giliran tandoori chicken. Tandoori merupakan alat pemanggang khas India. Pada dasarnya, semua makanan yang perlu proses pemanggangan dimasukkan ke alat tersebut. Tidak hanya daging, papad dan naam, roti yang digunakan pun dipanggang dengan ditempel ke dinding bagian dalam tandoori.

Warna merah menantang pada daging ayamnya berasal dari paprika. Sebelum dipanggang, ayam tandoori memang dilapisi bumbu terlebih dahulu, termasuk di dalamnya yoghurt, air lemon, lada, jahe, d a n bawang putih. Ayam baru dipanggang bila sudah dibalut mbu itu minimal 12-24 jam, sehingga bumbunya mere sap ke dalam. Lagi-lagi, sedap! Kejutan warna India belum selesai bagi kami. Masih ada badami prawn masala. Seperti banyak hidangan India lainnya, yang satu ini pun dimasak dengan menggunakan campuran yoghurt, jahe, kayu manis, santan, dan lainnya. Tekstur bumbu untuk udang itu kental, terutama oleh campuran kacang almond karena badami artinya almond. Enak sekali.

Lalu bukan Deepavali namanya kalau tidak ada kudapan manis. Ada rasmalai, golab jamun, dan besan ka ladu. Semua bahan dasar hidangan penutup itu merupakan endapan susu. Berbeda dengan rasmalai dan golab jamun yang dihidangkan dengan kuah manis, besan ka ladu dicampur dengan kacang dan diolah dengan digoreng. Untuk lidah Indonesia, terus terang hidangan penutup ala India terasa terlampau manis. Namun, memang begitulah budayanya. India suka menutup pesta mereka dengan rasa manis.

Selama promosi makanan India dalam rangka Deepavali di Cafe Gran Via pada 20-30 Oktober 2014, hidangan India bisa dinikmati secara parasman baik siang ataupun malam. Harganya mulai Rp248 ribu, dengan menu bervariasi yang terus dirotasi selama perayaan. Selain pada hari raya, masakan India tetap tersedia walau pilihannya tidak sama banyak. “Kami pertahankan yang menu favorit,“ tutup chef Apep.

Jika dilihat sepintas, sebenarnya hidangan India lebih banyak didominasi warna kusam yang tak tampak segar atau cerah. Namun, cobalah sejenak nikmati hidangan itu sambil menutup mata, rasakan taburan warna rasa India di kepala Anda. (M-3) Media Indonesia, 2/11/2014, halaman 23