Minggu, 24 November 2013

Mari Mengenal Pangan Fungsional

Istilah pangan fungsional diperkenalkan pertama kali di Jepang sekitar pertengahan tahun 1980-an. Istilah itu ditujukan bagi makanan yang mengandung bahan yang berfungsi untuk kesehatan dan memiliki efek fisiologis pada tubuh manusia. Target utama pangan fungsional adalah mereka yang ingin memelihara dan meningkatkan kondisi tubuh termasuk pengendalian tekanan darah dan kolesterol.

Semua makanan memang fungsional karena menyediakan beragam nutrisi dan energi untuk menjaga pertumbuhan dan menyokong proses vital dalam tubuh. Namun, pangan fungsional ini secara umum menawarkan keuntungan tambahan bagi kesehatan yang mampu menurunkan risiko terjadinya penyakit tertentu ataupun mempromosikan kesehatan yang optimal.

Di Amerika Serikat pemerintah setempat belum mengatur pangan fungsional ini secara khusus. Meski begitu, peraturan setempat mengklasifikasi ada empat kategori pangan yang termasuk pangan fungsional. Dikutip dari lama leatright.org, keempat kategori pangan tersebut ialah pangan konvensional, pangan modifikasi, pangan untuk pengobatan dan oangan untuk penggunaan dalam diet khusus.


Contoh pangan konvensional adlaah biji-bijian, buah-buahan, sayuran dan kacang-kacangan. Sedangkan, contoh pangan modifikasi adlaah yoghurt, sereal dan jus jeruk. Pangan untuk pengobatan merupakan jenis makanan dan minuman yang diformulasikan khusus untuk pasien pengidap penyakit tertentu, misalnya makanan nongluten dan kasein untuk pasien autis. Terakhir contoh pangan untuk penggunaan dalam diet khusus adalah susu formula.

Di Indonesia regulasi diatur oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Dalam Peraturan Kepala BPOM RI Nomor HK 00.05.52.0685, pangan fungsional haruslah disajikan dan dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan dan minuman. Artinya, pangan fungsional haruslah memiliki cita rasa yang bisa diterima konsumen. Salah satu komponen pangan fungsional yang dicantumkan dalam peraturan tersebut ialah fitosterol. Komponen itu merupakan sterol yang diisolasi dari tanaman yang memiliki struktur menyerupai kolesterol. Mengkonsumsi fitosterol 2-3 gram setiap hari diyakini dapoat menurunkan kadar kolesterol dalam darah 9-20 persen tanpa mempengaruhi kadar kolesterol HDL (kolesterol baik).

Kandungan fitosterol ini dalam bentuk Plant Stanol Ester juga terdapat dalam Nutrive Benecol Produksi Kalbe Nutritionals. Sebuah penelitian kemudian dilakukan Dr Widjaja Lukito, SP GK dan kawan-kawan, untuk menyelidiki efikasi Nutrive Benecol yang mengandung plant stanol ester dalam menurunkan konsentrasi serum kolesterol pada subjek Indonesia.

Penelitian itu melibatkan 99 orang berusia 24-68 tahun. Pasien kemudian secara acak dimasukkan dalam kelompok kontrol dan kelompok Nutrive Benecol. Hasilnya secara umum semakin tinggi kadar kolesterol total & LDI seseorang, semakin besar penurunan yang akan didapat bila Plant Stanol Ester dikonsumsi secara teratur.

Analisa lebih jauh menunjukkan, subjek dengan konsentrasi LDL serum awal > 130 mg/ dL, menunjukkan penurunan kolesterol total dan LDL selama 2 minggu pertama pada kelompok Benecol adalah 7 persen dan 12 persen.

Banyak rekomendasi dari luar negeri yang menganjurkan penggunaan plat stanol ester sebagai bagian pola makan sehat untuk menurunkan kolesterol serum, sebagai pencegahan primer. Rekomendasi US National Cholesterol Education Program 2002, menganjurkan pemberian plant stanol ester sebagai pilihan terapeutik untuk meningkatkan penurunan kolesterol LDL.

Pemberian plant stanol ester ini juga dianjurkan dalam panduan internasional. Pada NCEP ATP III disebutkan, orang-orang dengan hiperkoleterolemia dianjurkan melakukan diet dan mengkonsumsi plant stanol ester 2 gram/ hari, serta menggunakan statin.

Statin dapat menurunkan sintesis kolesterol 20-40 persen. Sementara plant stanol ester 2 gram/ hari, menurunkan penyerapan kolesterol di usus besar 10 persen. Jika statin dan plant stanol ester digunakan bersamaan, didapatkan penurunan kolesterol 30-50 persen.




Sumber Media Cetak : Media INdonesia, 20 November 2013