Jumat, 14 November 2014

Avokad Cipedak Pertahanan Tersisa

SENTRA buah Pasar Minggu kini tinggal cerita karena para petani buah-buahan di kawasan itu telah beralih pekerjaan seiring dengan perubahan fungsi lahan mereka. Lahan perkebunan buah berubah menjadi permukiman, termasuk rumah kontrakan.

“Sentra buah Pasar Minggu lenyap karena memang sudah tidak ada lahan. Selain itu, petani dan pedagangnya sudah tua-tua, bahkan tidak ada lagi. Pekerjaan itu tidak diteruskan oleh anak-anak mereka karena ingin mencari kehidupan yang lebih baik,“ kata staf Seksi Pertanian Suku Dinas Pertanian Jakarta Selatan yang juga penduduk asli Pasar Minggu, Andi Kurniawan, Jumat (7/11) pekan lalu.

Keturunan para petani buah, ujarnya, memilih mengubah lahan pertanian mereka menjadi permukiman, yakni dijadikan rumah kontrakan yang hasilnya dianggap lebih cepat ketimbang menunggu panen buah. Hal itu juga memengaruhi eksistensi pembeli atau tengkulak sehingga sebagian dari keturunan mereka juga bera lih pekerjaan.

Ia menyebutkan, terhentinya pasokan buah-buahan lokal dari petani ke pedagang di Pasar Minggu mulai terlihat menjelang akhir 1990. Saat itu banyak pedagang membeli buah untuk dagangan mereka dari Pasar Induk Kramat Jati.Pedagang buahnya pun bukan lagi asal Pasar Minggu, umumnya mereka dari wilayah Bojong Gede dan Citayam, Depok.

Padahal, pada tahun 80-an, tuturnya, ia masih melihat banyak petani dan pedagang bertransaksi buah-buahan di sekitar Jalan Raya Ragunan hingga perempatan pasar. Sekitar pukul 03.00 WIB, petani sudah berbondongbondong membawa aneka buah segar hasil kebun mereka dengan menggunakan sepeda yang dilengkapi dua keranjang. Hasil kebun yang dibawa antara lain mangga, pisang, jambu biji, dan pepaya. Dari setiap desa/kelurahan rata-rata ada 50 petani yang beriringan menuju Pasar Minggu setiap hari.

“Tahun 1980 saya masih melihat di depan rumah setiap dini hari mereka (petani) keluar beriringan naik sepeda membawa buah-buahan,“ kata Andi. Meski Pasar Minggu sudah tidak lagi menjadi sentra buah, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Selatan terus berupaya agar sisa-sisa kejayaan itu terus ada.

Kepala Seksi Pertanian Pemkot Jakarta Selatan Siti Sundari mengungkapkan, salah satu yang diupayakan ialah mempertahankan budi daya buah avokad cipedak di lahan yang makin terbatas, yakni di pekarangan rumah warga.

Avokad cipedak adalah salah satu buah khas dari wilayah Cipedak, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa. “Kami berupaya agar buah ini terus ada, jangan sampai pohon yang tersisa sedikit itu pun ditebang oleh penduduk,“ ujarnya. Selain di kawasan Cipedak, tambah Siti, sekitar Setu Babakan juga tengah dipantau untuk area tanaman belimbing khas Jagakarsa.(Nel/J-3) Media Indonesia, 11/11/2014, halaman 9