Minggu, 19 Oktober 2014

Suguhan Lokal dalam Kemasan Kekinian

Di Bengawan Solo, rasa lokal tetap dapat dicecap meski aneka menu tradisional disajikan dengan sentuhan internasional. KULTUR Jawa di restoran milik Hotel Grand Sahid Jaya itu terasa kental, persis seperti namanya, Bengawan Solo. Sebelum memasuki daun pintu lebar dengan kaca, kami disambut oleh punakawan dalam bentuk wayang golek. Manajer PR Hotel Grand Sahid Jaya, Putri Pratiwi, mengatakan tokoh punakawan menjadi ikon dari restoran yang baru saja mengalami renovasi di bagian desain.

Pemilihan unakawan merujuk pada salah satu sifat mereka yang dapat menjadi penghibur di kala susah dengan perilaku jenaka. Soal olah-mengolah makanan, dia menyebutkan ada dua koki di restoran Bengawan Solo, satu koki lokal untuk urusan rasa, satu lagi koki asing untuk tampilan makanan.

Lebih ke dalam, suasana Jawa terlihat bercampur dengan nuansa modern. Berbagai lukisan yang menggambarkan kekinian hadir di dinding restoran. Jejeran botol-botol aneka bentuk tersimpan di lorong sebuah dinding. Restoran yang beroperasi sejak pukul 11.00-23.00 WIB itu memadukan nuansa Jawa dan modern agar lebih menarik minat anak muda untuk mencicip makanan tradisional.Signature appetizer Saat memasuki ruangan yang serbaputih dengan satu pilar besar di bagian tengah tempat menyematkan banyak wayang golek, terasa seperti berada di rumah Jawa kaum ningrat.

Bau pandan menyeruak dari segelas teh yang di dalamnya berisi berbagai buah. Rasa penasaran dan dahaga menuntun indera pengecap untuk mencicipi minuman bernama Ice Pandan Tea. Meskipun berisi ragam buah, rasa teh dan pandan dari minuman tersebut tetap terasa kental.

Putri yang ikut menemani kami menjelas kan rasa pandan hanya berasal dari potongan daun pandan yang disematkan dalam segelas teh. Minuman yang menjadi Signature Appetizer Restoran Bengawan Solo itu dibuat mendadak ketika tamu datang.

Segar dan tidak terlalu manis, begitulah rasa dari Ice Pandan Tea, ragam buah seperti pepaya, nanas, dan rambutan pun bisa kita makan dengan sendok kayu. “Kalau distok, rasanya akan berubah. Buahnya pun akan layu dan merusak tampilan minuman,“ ujar Yandu Rahadian, koki penanggung jawab rasa.

Bukan hanya berupa minuman, Signature Appetizer lainnya, yaitu Sosis Solo sudah dihidangkan di atas wadah kayu. Di sampingnya tersedia saus sambal dan sebuah tabung semprot transparan yang berisi satu cabai rawit merah.Pramusaji lantas memindahkan makanan tersebut ke kanan tersebut ke piring kami. Ia pun lantas menawarkan `penyemprotan' cairan cabai di bagian daun selada atau sosis solo. Hmm jika biasanya sosis solo berisi daging ayam yang disuwir halus, di resto ini isinya daging cincang yang rasanya mirip sekali rendang.

Camilan ringan sembari menunggu hidang an utama datang, disajikan di atas sebuah becak pajangan. Dalam balutan kertas, keripik singkong balado dengan bintik-bintik hijau terasa menggiurkan. Warna hijau yang melekat pada keripik membuat penasaran.

“Oh, itu kami pakai daun jeruk, masaknya pun mendadak kalau keripiknya sih kami stok, tetapi untuk bumbu kami masak saat tamu datang. Ya bahan seperti cabai, bawang putih, dan potongan kecil-kecil daun jeruk kami gongseng terlebih dahulu. Wangi dan rasanya terjaga,“ terang Yandi yang sudah 1,5 tahun ber gabung dengan Restoran Bengawan Solo.

Berkiblat ke Solo Setiap masakan, selalu melewati proses mencari rasa agar dekat dengan rasa asli. Proses itu bisa memakan waktu dua bulan. Putri menga takan pihaknya tidak ingin kehilangan rasa lokal seperti yang dise diakan para pedagang kaki lima. Mulai dari gado-gado, nasi goreng, hingga sate, dilakukan riset rasa yang paling enak dan mendekati keaslian. Untuk gado-gado misalnya , dicari komposisi bumbu yang tidak terlalu halus, seperti buatan para penjual legendaris yang berjualan di kiosnya.

Di Bengawan Solo, gado-gado disediakan dalam sebuah mangkuk panjang. Bahanbahan seperti kacang panjang, kembang kol, tauge, tahu, timun, dan tempe yang telah di potong disusun terpisah. Dua buah sodet kayu dan mangkuk besar kosong pun digunakan untuk memindahkan gado-gado dari piring utama.

Pemindahan itu menjadi atraksi menarik, ketika manajer restoran mengambil salah satu sodet, lantas memasukan semua bahan dalam mangkuk besar, dilanjutkan dengan menuangkan bumbu kacang. Sodet lainnya segera digenggam, ia pun mulai mengaduk bahan dengan menggunakan dua sodet. Setelah tercampur sempurna, ia menyajikan di atas piring tamu-tamunya.

Rasa kacang tanah terasa pas, bercampur dengan renyah sayur. Terasa segar meski sudah mengalami proses pengukusan. Lepas dari itu, ada rasa manis khas masakan Jawa yang tersisa di lidah.

Rasa seperti itu juga ada di nasi goreng yang disa jikan lengkap dengan tiga tusuk sate, udang, ayam, dan sapi. Se mentara untuk acar, potongan telur, dan emping disediakan dalam mangkuk mangkuk kecil. “Ka lau ingin menambah tingkat kepedasan bisa dipesan khusus.

Rasa masakan kita kiblatnya memang ke Solo meskipun ada makanan yang berasal dari daerah lain seperti Ayam Taliwang dan Sate Maranggi,“ tutur Yandi.Hidangan penutup Ada yang kurang jika makan tanpa men cicipi hidangan pencuci mulut. Kali ini sang koki menyajikan smoky exotic ice cream.

Mangkuk berbentuk persegi ditaruh di atas wadah tertutup yang menghasilkan asap. Rupanya di dalam tersimpan batu es yang disiram air panas, untuk melindungi peru bahan bentuk es krim yang tersaji di dalam mangkuk persegi.

Rasanya seperti jus mangga namun lebih pekat dan dalam bentuk padat. Serat-serat mangganya pun masih nampak. Rasa Jawa kembali terhidang melalui tabung kecil berisi gula merah dan santan. Putri menyarankan menuangkan sedikit campuran gula dan san tan. Mmmm rasanya tetap enak, tetapi tidak ada lagi aroma dan rasa mangga.

“Gula merah dan santan itu penetral rasa sehingga pekat rasa mangga tadi hilang tetapi tidak juga menjadi rasa gula. Ini kreasi kami saja. Semua makanan dibuat langsung, tidak menggunakan bahan berbahaya karena itu es krimnya tidak akan tahan lama„“ tukas Yandi yang sebelumnya bertugas di restoran lain milik Grand Sahid Jaya.

Makan di Bengawan Solo membuat kami merasa berpetualang makanan Jawa. Di Bengawan Solo, makanan dibanderol mulai Rp50.000 hingga Rp400 ribu. “Kalau seharga Rp400 ribu untuk paket dua orang. Kalau in gin tambahan sambal, kami punya 10 macam sambal khas Indonesia,“ ujar Putri. Siang itu, suara merdu Anggun C Sasmi mengalun memenuhi ruangan, menemani acara makan dan perbincangan kami. (M-3) Sumber : Media Indonesia, 19/10/2014, Halaman : 23