Rabu, 18 Juni 2014

Tanah Kelahiran Kerupuk

Satu wakTU ketika berjam-jam nna mendapat suguhan ampang masam dari sang suami. Perkaranya sepele, dia lupa menyediakan kerupuk sebagai teman makan. “Pernah kami bertengkar gara-gara kerupuk. Suami saya penggemar berat berbagai macam jenis kerupuk dan sambal. Tidak ada cerita makan tanpa kerupuk,” kisah Anna, pegawai salah satu bank swasta di Bandung, ketika diwawancara Jumat (6/6).

Tidak bisa makan kalau tidak ada kerupuk. Entah dari mana istilah itu berasal, tapi yang jelas kebanyakan masyarakat Indonesia memang menganggap kerupuk sebagai salah satu pelengkap makan.

Anna mengaku sudah mempunyai tukang kerupuk kampung langganan yang rutin mendistribusi satu minggu satu kali. “Tukang kerupuk langganan kita sampai meminjamkan kaleng seperti di warung-warung,” ujarnya sembari tertawa.
Negeri kerupuk Kerupuk memang lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Menurut pengamat kuliner Arie Parikesit, kerupuk menjadi salah satu pelengkap makan, bahkan camilan, yang sudah masuk ke semua elemen atau status sosial.

Jika dulu tercipta dan dikonsumsi di kalangan bawah, sudah sejak lama kerupuk merambah ke kalangan atas.
Indonesia ditengarai Arie sebagai tanah kelahiran kerupuk. Ada banyak jenis yang beredar, mulai kerupuk kampung, gendar, udang, bawang putih, jengkol, sampai kerupuk melarat warnawarni yang digoreng dengan pasir panas.

Jenis kerupuk di Indonesia itu paling banyak sedunia. Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand memang punya, tapi tidak sebanyak kita,” terang Arie.

Dia berkisah, awalnya kerupuk berasal dari kebutuhan pengganti lauk seperti daging atau sejenisnya yang tergolong mahal. Kerupuk berbahan baku terigu atau sagu dianggap sebagai pengganti yang pas. Hanya dengan menambahkan perasa seperti udang dan bawang, penganan itu sudah sangat terasa nikmat.

“Tapi, sekarang kerupuk menjadi pendamping makanan yang telah berlauk. Jadi, fungsinya mirip topping. Itu sebabnya banyak jenis makanan di Indonesia yang menggunakan kerupuk, seperti nasi goreng, lontong sayur, sampai rawon, masing-masing punya kerupuk padanan sendiri yang dianggap cocok. Kerupuk juga sudah berkembang menjadi camilan setelah mendapat sentuhan kreativitas,“ papar Arie. (Ric/M-7) KONON, kisah kerupuk dimulai dari masyarakat kelas bawah yang tidak mampu membeli lauk memadai. Desakan ekonomi telah melahirlah aneka kerupuk dan keripik yang sekarang digemari hampir semua orang dari segala tingkatan sosial.

Harganya tidak lagi hanya seribu rupiah, tapi bisa mencapai puluhan ribu rupiah. Fungsinya bukan lagi hanya sebagai teman dan pelengkap makan, melainkan juga camilan.

Kreativitas membuat jenis kerupuk kian beragam. Mau rasa bawang putih, udang, ikan, jengkol, semua ada. Kreativitas juga membuat kerupuk tidak selalu harus kriuk, tetapi bisa juga lembab dan kenyal.

Masih ingat jenis kerupuk dan keripik yang hip di media sosial?
Itu dia keripik pedas Mak Icih asal Bandung, Jawa Barat. Produk yang lahir dari kesukaan pemilik pada kerupuk itu sampai sekarang masih bertahan dan mempunyai pelanggan setia. Dari usaha keripiknya, Reza Nurhilman, 27, pendiri Mak Icih mampu memperluas usaha di bidang properti dan majalah.

Seblak Dari kerupuk mentah bisa dikreasikan menjadi jenis kerupuk yang lembab dan kenyal. Di Jawa Barat ada seblak yang rasanya nikmat.

Kerupuk mentah direndam, ditumis dengan aneka bumbu, hasilnya diminati banyak orang.
Tahun lalu keberadaan seblak diangkat oleh pasangan suami istri Aries Intianto dan Silvya lewat `dagangan' Icip-Icip Nusantara. “ Awalnya kami kenal seblak ketika tidak sengaja makan di Garut. Ketika kami bawa ke Jakarta dan mencoba menjual, ternyata banyak yang senang,“ papar Aries.

Dari seblak tradisional, Aries mulai berkreasi. Rasa pedas hanya menjadi satu pilihan. Lainnya dikreasikan dengan sosis, ceker ayam, baso, dan sebagainya.

Kerupuk kulit Siapa tidak kenal dengan sayur krecek? sayur dengan santan yang gurih merupakan padanan khas sayur Gudeg. Krecek dibuat dari kerupuk kulit yang dimasukkan ke dalam bumbu berkuah, dan ketika kuah meresap, rasa kerupuk kulit semakin nikmat.
Di balik kenikmatan itu, ada proses panjang perjalanan kerupuk kulit.

Pembuatannya cukup rumit dan butuh waktu. Fredi Untoro, 23, yang menerjuni pembuatan kerupuk kulit di Beji, Depok, bertutur bahwa kualitas kulit sapi mudalah yang terbaik.

Proses pertama memasak kulit dalam wajan agar bulu-bulu dapat dengan mudah dirontokkan. Setelah FOTO-FOTO: MI/ BARY FATHAHILA itu kulit dipotong kecil-kecil, dijemur selama satu hingga dua hari direndam dalam minyak pana selama 6-8 jam hingga me kar, kemudian ditiriskan dan didinginkan, baru kemudian digoreng sam pai kering.

Fredi menjelaskan bahan kerupuk kuli bersifat menyusut. Dar kulit seberat 130 kg hasil akhirnya hany sekitar 40 kg. Kerupuk kembang Ini jenis kerupuk yang paling mudah dijumpai. Kerupuk kembang atau kampung yang berwarna putih ada di warung-warung hingga restoran.

Di Kampung Panjang, Citayam, Jawa Barat, terdapat rumah berukuran 10 x 20 meter dengan hamparan pekarangan luas yang disulap menjadi pusat penghasil kerupuk. Halaman itu penuh dengan kerupuk yang dijemur berdempetan dalam sebuah wadah bambu. “Semua ini kami buat manual,“ ujar Dadah Hamdani sang pemilik. Meski demikian, dari Citayam, kerupuk produk Dadah telah menjangkau pasar-pasar di Depok dan pinggiran Jakarta Timur. Setelah berjuang cukup lama, kerja keras Dadah mulai menampak kan hasil. “Modalnya hanya nekat. Enaknya jadi penjual kerupuk tidak perlu ijazah,“ ucapnya . sambil tersenyum.

Kerupuk yang disebutkan di atas hanya sedikit dari sekian banyak jenis dan kreativitas yang ada di In donesia. Kerupuk dan keripik men jadi teman makan dan camilan yang tidak mengenal status sosial. Semua menikmati. ((Sky/M-7) Media Indonesia, 08/06/2014