Jumat, 11 April 2014

Unggas masih Dilarang Masuk ke Kalimantan Selatan

KEBIJAKAN pelarangan keluar masuknya unggas jenis itik ke Kalimantan Selatan hingga kini masih berlaku karena status siaga flu burung di wilayah tersebut belum dicabut.

Kepala Dinas Peternakan Kalsel, Saberi Madani, mengatakan pihaknya masih menunggu laporan dan hasil pemantauan terakhir penyebaran virus flu burung yang sebelumnya menyebar di sejumlah kabupaten di Kalsel. “Kita akan meminta laporan hasil pemantauan terakhir, penyebaran virus fl u burung dari kabupaten.

Sampai saat ini larangan keluar dan masuknya unggas jenis itik masih tetap kita berlakukan,” tuturnya.

Hingga kini wilayah Kalimantan Selatan masih dalam status siaga flu burung. Serangan flu burung terjadi sejak awal Februari 2014 di sejumlah kabupaten, yaitu Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Barito Kuala, dan Tanah Laut.

Kini serangan flu burung juga merambah unggas itik dan ayam di Kabupaten Tapin dan Banjar. Diperkirakan, jumlah itik yang mati lebih dari 20 ribu ekor, juga ratusan ayam, dari total populasi itik Kalsel 4,8 juta ekor dan ayam sebanyak 20 juta ekor

Terkait dengan penanganan dan pencegahan penyebaran fl u burung, Pemprov Kalsel telah menghentikan pengiriman keluar dan masuknya unggas itik dan ayam dari luar Kalsel, terutama Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

“Perkembangan terakhir sebenarnya penyebaran virus fl u burung ini sudah mereda dan dapat diatasi. Akan tetapi, kita harus mendapat kepastian hasil pemantauan di lapangan dari kabupaten yang terkena fl u burung kemarin,” tambahnya.

Sebelumnya, beberapa pengiriman itik dan ayam beku dari luar Kalimantan Selatan untuk keperluan restoran dan hotel di wilayah itu ditolak dan dipulangkan. Demikian juga pengiriman unggas asal Kalsel ke provinsi tetangga Kalimantan Tengah untuk sementara masih ditutup.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman menyatakan penyebab puluhan ayam mati di Dusun Pondok, Selomartani, bukan karena terserang virus flu burung.

“Dari hasil pengecekan di lokasi, penyebab matinya ayam bukan karena flu burung, tetapi karena penyakit tetelo atau Newcastle diseases (ND),” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman Widi Sutikno, Selasa (8/4).

Menurut dia, sebelumnya ada informasi di wilayah itu terdapat sekitar 20 ayam yang mati mendadak. “Setelah dicek, bukan karena fl u burung, melainkan ND. Penyebabnya, mungkin karena ayam-ayam itu tidak dipelihara di kandang,” tukasnya. (DY/FU/N-1/MEDIA INDONESIA,10/04/2014, HAL : 10)