Jumat, 18 April 2014

Keharuman Kopi Mendahului Kesejahteraan Petani

Perjuangan petani kopi Indonesia masih sangat panjang untuk menyamai keharuman nama kopi dari tiap-tiap daerah yang sudah terlebih dahulu terbang ke mancanegara.
SUASANA di sebuah lelang kopi spesial dua tahun lalu begitu meriah. Kopi Toraja menem bus angka mencengangkan, US$45, dan menjadi pembicaraan dunia. Tahun lalu, di acara pameran kopi yang lebih kecil di Surabaya, lagi-lagi kopi Toraja memikat pembeli luar negeri. Kali ini pembeli dari Jepang jatuh cinta dan langsung memesan dua kontainer.

Pesanan itu tentu menggembirakan. Namun, beberapa hari kemudian, Plt Kepala Dinas dan Kehutanan Toraja Utara Yusuf Gelong duduk terhenyak. Ternyata, untuk mengumpulkan satu kontainer kopi sulit bukan main.

Baca juga : Minum Kopi Kurangi Risiko Kanker Usus

“Persoalan kopi yang kami hadapi memang panjang. Rata-rata pembeli batal beli karena takut dengan kemampuan kontinuitas kita dalam menyediakan produksi kopi. Belum lagi masalah stabilitas kualitas,“ katanya ketika diwawancara baru-baru ini.

Meski bantuan berdatangan dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan departemen atau kementerian lain, perjuangan masih panjang. Bukan hanya meningkat kan pengetahuan petani, melainkan juga membangun akses jalan dari kebun menuju kota, memberantas tengkulak, dan ditambah lagi kendala yang datang seperti soal budaya dan adat.

Fakta lapangan Meski perjuangan masih panjang, kekayaan variasi (speciality) kopi Indonesia tidak perlu lagi diragukan.
Tapi itu tadi, kekayaan belum disertai dengan stabilitas kualitas dan produksi.

“Padahal, kualitas menentukan harga dan stabilitas produksi menjadi salah satu persyaratan yang diajukan pembeli luar negeri,“ papar Jamil Budiono, Kabid Analisis Potensi dan Evaluasi Pengembangan Komoditas Unggulan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Ia antara lain memiliki program Prukab (Produk Unggulan Kabupaten) sesuai cluster, misalnya cluster kopi.

Temuan di lapangan yang paling menonjol, menurut Jamil, terletak dari kurangnya pengetahuan petani mengenai cara bertanam, panen, pengolahan, dan penyimpanan.

Akibatnya, harga kopi jatuh dan petani jadi mainan para tengkulak. Masalah lain yang sering dijumpai di pedalaman adalah akses jalan yang masih buruk sehingga ongkos angkut dari perkebunan kopi ke penjual jadi sangat mahal.

“Lewat program Prukab kami terus berusaha membantu meningkatkan nasib petani. Tidak mudah. Perlu kerja sama semua pihak. Petani kopi Bondowoso di Jawa Timur bisa menjadi salah satu contoh daerah yang berhasil keluar dari cengkeraman tengkulak,“ papar Jamil.
Produktivitas Saat ini, Indonesia tercatat sebagai penghasil kopi ketiga terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Meski demikian, jika dibandingkan dengan Vietnam yang lahan kopinya separuh lebih kecil, produktivitas kopi Indonesia masih tertinggal jauh.

Produktivitas tanaman kopi Indonesia tercatat baru mencapai 700 kg biji kopi/ha per tahun untuk robusta dan 800 kg biji kopi/ha per tahun untuk arabika. Adapun produktivitas Vietnam telah mencapai lebih dari 1.500 kg-3.000 kg/ha per tahun.
Pada 2012, Indonesia tercatat memproduksi sedikitnya 748 ribu ton atau 6,6 % dari produksi kopi dunia. Data Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perdagangan dan Perindustrian menyebutkan, dari jumlah tersebut, produksi kopi robusta mencapai lebih dari 601 ribu ton (80,4%) dan produksi kopi arabika mencapai lebih dari 147 ribu ton (19,6%). Peluang Jumlah produksi yang dicapai tentu masih jauh bila dibandingkan dengan peningkatan kebutuhan kopi dalam negeri dan dunia.
Di dalam negeri, kebutuhan kopi berkembang sekitar 7,5% per tahun.

Di luar negeri lebih pesat lagi. Seharusnya, perkembangan kebutuhan itu bisa menjadi peluang perdagangan yang sangat baik.
Data dari Kementerian Perdagangan dan Perindustrian menunjukkan kopi merupakan komoditas ekspor nonminyak nomor 6 terbesar di Indonesia. Angka itu jelas masih bisa dimaksimalkan mengingat masih banyak perkebunan kopi yang belum tergarap dengan baik.
Banyak pula petani yang belum maksimal mengurus lahan kopi karena keterbatasan akses, pengetahuan, dan ganjalan berbagai persyaratan terkait dengan standarisasi kopi dunia.

Belum lagi permainan pengepul (tengkulak) di daerah-daerah terpencil dan tertinggal yang memanfaatkan keterbatasan akses dan pengetahuan petani kopi.

Alhasil, cerita tentang rendahnya kesejahteraan petani kopi bukan isapan jempol. Perjuangan mereka masih sangat panjang untuk menyamai keharuman nama kopi dari tiap-tiap daerah yang terlebih dahulu terbang ke mancanegara. (M-3/MEDIA INDONESIA, 13/04/2014, HAL : 5)