Minggu, 06 Juli 2014

Pilih Takjil Sehat saat Berbuka

Anda kerap berburu takjil saat Ramadan?
Informasi berikut mengingatkan Anda untuk tidak membelinya sembarangan. BERPUASA selama sebulan penuh kala Ramadan belumlah lengkap kalau tidak mencicipi berbagai makanan pembuka puasa atau biasa dikenal sebagai takjil. Belum lama ini, http://www.openrice.com, salah satu laman panduan restoran dan tempat makan nomor 1 di Asia merilis 10 menu takjil terfavorit di Indonesia.

Apa saja itu? Posisi pertama ternyata ditempati buah kurma yang disusul dengan kolak, biji salak, es campur, bubur kampiun, es palu butung (pisang ijo), lemang, kue basah, aneka puding, dan kue kering. Saat berbuka puasa memang dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang manis.

Fungsinya untuk mengembalikan kadar gula darah yang turun selama puasa karena itulah takjil menjadi favorit banyak orang.
Bagi Anda yang terpaksa pulang kerja ataupun harus melanjutkan urusan kerjaan hingga lewat waktu berbuka, membeli takjil di pedagang kaki lima sudah lumrah adanya. Anda bisa mendapatkannya dengan mudah di pinggir jalan, pasar tumpah, hingga pusat perbelanjaan.

“Aku biasanya asal beli aja makanan di pinggir jalan karena ingin cepat pulang ke rumah. Biasanya favoritku es pisang ijo sama siomay. Jadi aku biasanya tinggal beli tanpa perhatikan dan efeknya apa,” ujar Intan, 26, karyawan bank swasta, kepada Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Namun, ketidaktahuan itulah yang berbahaya. Sebagai konsumen yang cerdas, Anda harus mengetahui apa saja makanan atau minuman yang Anda masukkan ke tubuh. Tentu saja demi alasan kesehatan yang menjadi investasi jangka panjang Anda di masa depan.

Nah, langkah pertama, mulailah dengan menghindari makanan atau minuman yang warnanya mencolok. “Jangan pilih
makanan yang berwarna ngejreng karena bisa dipastikan menggunakan pewarna tekstil yang sangat berbahaya bagi kesehatan,“ kata Kepala Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) DKI Jakarta Dewi Prawitasari, seperti dikutip dari Antara, Senin (30/6).
Langkah kedua, sambung Dewi, amatilah kebersihan pedagang makanan tersebut. Jika banyak lalat atau terlihat jorok, sebaiknya batalkan membeli makanan di tempat itu. “Begitu pula, kalau terlihat kuku-kuku pedagangnya tidak bersih, itu bisa dijadikan indikator tingkat kebersihan seseorang,“ ujarnya.

Selain takjil yang rentan menggunakan bahan berbahaya, ia juga memperingatka warga berhati-hati membeli produk yang kerap diketahui menggunakan formalin dan boraks, seperti mi basah, lontong, ketupat, bakso, dan lainnya.

“Jika dua hari masih awet meski tidak dimasukkan ke kulkas, sebaiknya tidak usah dimakan lagi,“ katanya.
Imbauan Balai Besar POM itu bukannya tanpa alasan. Pada 2013, Balai Besar POM menemukan sekitar 36% sampel jajanan takjil di wilayah Ibu Kota mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks rhodamin-B, serta penggunaan pemanis buatan siklamat. Sampling diambil dari tempat-tempat khusus yang menjual jajanan berbuka puasa.

Jenis makanan yang diuji sebagai sampel, antara lain bakso, jelly, agaragar, es (es cendol dan es campur), bubur (kolak, bubur ketan hitam, bubur kacang hijau, bubur kolang kaling), mi, minuman berwarna dan sirup, dan gorengan (bakwan, batagor, dan pempek). Biasanya penggunaan zat-zat kimia berbahaya itu kerap dilakukan pedagang nakal untuk menaikkan keuntungan.
Ganti jus buah Indriani Oka, ahli gizi dari Pusat Kajian Gizi Regional SEAMEO Refcon UI, mengatakan efek yang didapatkan jika mengonsumsi jajanan yang mengandung zat yang berbahaya tak terlalu kentara seperti keracunan.

Akan tetapi, bila dikonsumsi secara berkala atau jangka panjang, akan mengakibatkan kanker. “Sebaiknya masyarakat harus waspada dan pintar dalam hal ini. Masyarakat harus bisa memilah mana makanan yang benarbenar sehat dan mengandung zat berbahaya,” ungkapnya.

Aneka es dengan warna mencolok perlu diwaspadai mengandung zat berbahaya seperti rhodamin-B, boraks, dan metanil.
“Bila pewarna jenis tersebut dikonsumsi oleh tubuh, akan berbahaya bagi tubuh seperti iritasi saluran pernapasan,” tuturnya.
Indri juga mengingatkan bahaya pemanis buatan. “Biasanya jajanan yang diberi pemanis buatan memiliki rasa pemanis yang pekat. Jangan diteruskan bila rasa yang ditimbulkan sangat tajam seperti terasa sangat manis,” ungkapnya.

Ciri-ciri makanan atau minuman dengan pemanis buatan ialah tidak dikerubungi lalat atau semut. Bila disimpan di dalam wadah terbuka selama lebih dari 6-8 jam rasa dan baunya tidak berubah saat dikonsumsi. Hal yang sama didapatkan pada makanan yang mengandung formalin.

Inge Permadhi selaku ahli gizi RS Siloam mengingatkan untuk tidak berlebihan mencicipi takjil yang sebagian besar berasa manis. Ia malah menyarankan untuk mengganti menu yang serbagula tersebut dengan jus buah tanpa gula.

“Saat buka puasa, jajanan seperti kolak diperbolehkan, tapi porsinya tetap harus diatur dan tak berlebihan. Tetapi, saya menyarankan alangkah baiknya bila Anda mengonsumsi buah yang manis terlebih dahulu,“ katanya.

Buah-buahan yang manis sangat baik dikonsumsi tubuh dan juga sebagai pengganti nutrisi. “Jus buah yang sebaiknya dikonsumsi, yakni semangka, mangga, avokad, pisang, stroberi, dan apel,“ pungkasnya. (S-5) Media Indonesia, 4 Juli 2014, Halaman 28