Senin, 28 Juli 2014

Choqusi, Kurma Isi Mete Berlapis Cokelat

Dengan modal yang tidak terlalu besar, bisnis kecil-kecilan saat Ramadan bisa meraup untung cukup besar. MENJELANG Hari Raya Lebaran, bisnis rumahan kue bermunculan. Tanpa harus mengeluarkan modal besar, asal bisa berkreasi dengan kemasan cantik dan menawarkan sensasi rasa berbeda, pasti bisa meraup untung besar.

Seperti itulah yang dilakukan Dwi Srikandi, 20. Gadis berhijab yang baru saja lulus kuliah di Bogor itu berkreasi menjemput peluang membuat kue dengan bahan kurma, kacang mete, dan cokelat.
Ia mengerjakan semua itu di rumahnya di Kompleks PT Unitex, Jalan Mawar 5, No 14, Kota Bogor.
Dengan bermodal dari uang tabungannya, sebesar Rp1 juta, Dwi membuat choqusi, kependekan dari chocolate (cokelat) qurma (kurma) isi.

Choqusi ialah kue Lebaran kurma berisi kacang mete yang dilapisi cokelat.

“Jadi kurmanya kita buka, bijinya dibuang dan diganti dengan kacang mete yang sudah disangrai. Setelah itu ditutup pakai topping cokelat dua kali. Lapisan cokelat pertama penuh di permukaannya dan lapisan kedua hanya sebagai pewarna atau pemanis tampilan,” papar Dwi menjelaskan proses pembuatan choqusi.

Pembuatan choqusi, lanjutnya, sangat mudah dan sederhana.
Tidak perlu waktu lama ataupun menghabiskan energi.

Bahkan bisa dilakukan sambil bersantai dan atau sembari menunggu waktu magrib untuk berbuka puasa (ngabuburit).
Karena prosesnya yang mudah, murah, dan sederhana itulah, Dwi memilih bisnis kue choqusi.
“Agak capek saat menyangrai kacang dan melelehkan cokelat saja. Tetapi, itu waktunya tidak lama. Setelah itu, kita santai membuatnya,” kata Dwi yang kini meminta bantuan kakak iparnya, Nizma, karena kebanjiran pesanan.
Choqusi dipilih Dwi untuk memulai bisnis kecil-kecilannya karena terinspirasi dengan Ramadan dan Lebaran yang identik dengan kurma.

“Cokelat dan kacang mete itu saya padukan karena ada beberapa orang enggak suka kurma. Mungkin kalau dilapisi cokelat, (kurma) jadi menarik,“ ungkapnya.

Dalam penjualannya, Dwi mengikuti cara praktis dan modern melalui internet dan media sosial.
“Cuma broadcast di BBM (Blackberry Messenger), terus di media sosial Path.
Saya bikin choqusi ini kan enggak tiap hari. Hanya setahun sekali, awal Ramadan atau jelang Lebaran. Sengaja biar orangorang kangen kue saya,“ tuturnya.

Untung besar Usaha yang dijalankan Dwi ternyata laris manis. Sejak pertengahan bulan puasa, ia kebanjiran order. Di awal puasa, pemesanan kue choqusi hanya 2-3 stoples per hari, mendekati Lebaran sudah mencapai lusinan stoples per hari.
“Sekarang pesanannya sudah partai besar,“ akunya.

Trik usaha Dwi menjual choqusi lainnya ialah dengan tidak memproduksi kue atau mengemas dalam stoples ukuran besar. Dengan stoples ukuran sedang, penampilan kue choqusi-nya terkesan praktis dan cantik.

Untuk satu stoples yang berisi 20-23 choqusi, Dwi mematok harga Rp30 ribu.
Khusus untuk yang membeli lebih dari satu atau dua hingga tiga, ia kemas dengan membungkusnya menggunakan bungkus kado plastik. “Jadi, lebih praktis dibawa dan kelihatan manis.“

Alhasil, dengan kreasinya, dia bisa meraup untung jutaan rupiah dalam satu hari. “Alhamdulillah, laris manis. Sehari, bersihnya saya kantongi Rp2 juta,“ akunya. (S-3) Media Indonesia, 21 Juli 2014, Halaman 13